Senin, 28 Januari 2013

Tuhan Itu Keren, Mas dan Mbak Bro.... :D

"Share donk, berapa laba bersih kamu per bulan?" 
"Ini masih hitungan kasar ya, admin-nya masih belajaran. Bulan lalu Alhamdulillah 5".

     Begitulah kira-kira dua kalimat awal percakapan saya lewat bbm dengan seorang teman "pengusaha muda" beberapa waktu lalu. Jujur, mata saya dibuat melebar dua kali lipat. "Lima" di sini tentu lima juta rupiah ya, bukan lima ratus ribu rupiah atau lima puluh juta :D. Sebuah angka yang sangat fantastis untuk usaha yang hanya dijalankan di rumah, dilakukan sambil "momong bayi", bersih-bersih rumah, nyuci, setrika, dan berbagai urusan rumah tangga lain. Di kantor tempat saya pernah bekerja saja gaji segitu rasanya punya kepala kompartemen saya (yang sudah bekerja lebih dari sepuluh tahun). Luar Biasa.
    Saya lanjut ke pertanyaan kedua, tentang berapa persen kerugian yang dia dapat. Untuk ini, teman saya masih belum bisa memberikan jawaban pasti. Ya, saya paham itu karena usaha yang dia miliki masih berjalan sekitar enam bulan. Saat saya tanya apakah dia memakai jasa iklan berbayar, dia bilang tidak. WOW, saya kembali dibuat tercengang. Ternyata menggiurkan juga ya jadi pengusaha, pikir saya saat itu.
    Sebenarnya, saya tidak merasa heran dengan pencapaian teman saya. Kenapa? sejak awal saya tahu produk yang dia jual bukan sembarangan. Kali ini saya memberkan sepuluh jempol untuk sang kakak (ibu rumah tangga juga). Kalimat "ide itu harganya mahal" sepertinya bukan sebuah omong kosong. Ide dan kreativitas merupakan nilai tambah yang mutlak dimiliki setiap calon "entreneneur" (menurut saya ya :P). So, dari sekian banyak produk sama yang pernah saya tahu, produk ciptaan si kakak ini memang lain dari yang lain. Unik.
    Kembali lagi pada teman saya. Saat chatting itu berlanjut beberapa lama, secara spontan memori saya berputar ke masa sekitar satu setengah tahun lalu, pada pertengahan 2011. Malam itu saya pulang kerja sekitar pukul 23.00. Di depan kantor, teman saya dan calon suaminya sudah duduk lesu di tangga kecil. Teman saya memakai jaket tebal, jilbab pun dipakai ala kadarnya. Wajahnya lusuh, matanya sembab, seperti habis menangis. Kejadian selanjutnya bisa ditebak, saya memeluk dia, berusaha menenangkan dengan kalimat-kalimat standar (karena hanya itu yang saya punya). Singkat cerita, teman saya menjadi korban perampingan jumlah karyawan. Padahal, teman saya berencana menikah beberapa bulan lagi saat itu. Kala itu saya cuma bilang "Untuk menuju kebaikan biasanya memang ada ujian". Tidak banyak yang bisa saya berikan selain pelukan dan doa. Teman saya pulang dengan ucapan "terima kasih" yang terbata.
    Tuhan menunjukkan keagunganNya. Bahwa  Dia akan memberikan kemudahan untuk siapa pun yang punya niat baik, terlebih menyempurnakan separo agama: menikah. Kabar baik itu datang sekitar sebulan setelah malam muram itu. Teman saya diterima kerja di sebuah perusahaan Jepang. Mata saya menatap penuh iri melihat surat kontrak kerjanya yang kami cetak di warnet sebelah kos saya. Sebuah angka yang sangat besar untuk fresh graduate semacam kami. Yah, dua kali lipat UMR Surabaya saat itu lah. Dua kali lipat gaji saya :). Tuhan itu Keren, batin saya. "Tu kan, q bilang apa. Ini rezeki orang mau nikah".
    Belum genap setahun menikmati hidup bahagia: menikah, dua-duanya berpenghasilan lumayan, dan mendapat anugerah karena di rahimnya tengah tumbuh janin berusia sekitar dua bulan, cobaan kembali menghampiri teman saya. "Lagi-lagi", untuk kali kedua dia menjadi korban perampingan jumlah karyawan. Hidupnya kembali ke titik terbawah. Kali ini tentu lebih berat. Teman saya tidak mungkin bisa mencari pekerjaan pengganti. Tidak ada perusahaan yang mau menerima ibu hamil bukan? Maka, dia pun hanya bisa menerima kenyataan dengan "ikhlas". Meski saya tahu itu tidak mudah.
   Sang suami (yang kebetulan juga teman baik saya), tentu harus memeras otak lebih keras. Menjadi satu-satunya tumpuan keuangan keluarga dengan istri tengah hamil muda tentu tidak mudah. Penghasilannya di sebuah kantor telekomunikasi tidak sebegitu besar. Sebuah keputusan besar diambil. Diterima sebagai tenaga marketing di sebuah kantor leasing, teman saya mengundurkan diri dari pekerjaan lamanya. Harapan sempat menyeruak di langit-langit keluarga kecil itu. Saya pun senang mendengarnya. Sebagai istri, teman saya pun tidak tinggal diam. Saat itulah dia mulai membantu usaha online kakak keduanya. Meski belum seberapa, setidaknya dia melakukan sesuatu. Lagi-lagi saya tidak bisa berbuat banyak, hanya sesekali mengunjungi dan terus mendoakan.
   Sampai pada suatu sore, saya kembali dikejutkan kabar memilukan dari pasangan muda itu. Masih hangat dalam ingatan saya. Langit Surabaya sedikit mendung ketika kami bertemu di tempat calon suami saya. Suami teman saya mengundurkan diri dari pekerjaan barunya. Lingkungan kerja yang tidak sehat (teman-teman kantor sering ngajak "minum", waktu untuk salat yang susah didapat) menjadi alasan. Kami (saya dan calon suami saya) pun kagum atas keputusan itu. "Pasti setelah ini dimudahkan" kata saya memberi semangat. Teman saya mengangguk pelan. Matanya sayu, tubuhnya tak juga terlihat berisi meski usia kandungannya sudah semakin bertambah.
   Singkat cerita, pasangan muda itu meninggalkan Surabaya dengan kondisi sama-sama jobless. " Allah akan meninggikan derajat mereka setelah ini", kata saya dalam hati saat kali terakhir bertemu mereka di kota ini. Benar saja, semuanya berangsur-angsur membaik setelah itu. Usaha online teman saya semakin berkembang. Kehadiran bayi mungil mereka membuat pintu rezeki mereka semakin terbuka lebar. Beberapa bulan lalu, saat saya mengunjungi mereka dan bayi mungilnya, saya sempat bertanya berapa pendapatan bersih dari usaha itu. Teman saya menjawab sekitar satu juta rupiah. Dan, dua hari lalu, sekitar dua bulan setelah kedatangan saya saat itu, pencapaian itu meningkat lima kali lipat. Subhanallah.
   Hari ini, di hari ulang tahunnya, lagi-lagi saya belum bisa memberikan apa pun. Hanya untaian doa yang insya Allah terus terpaut di setiap sujud dan tulisan sederhana ini sebagai hadiah di pertambahan usianya. 25 tahun. Semoga kisahnya menjadi inspirasi, memotivasi, dan menjelma energi bagi saya dan Anda semua yang membaca. "Tuhan itu Keren, Mas dan Mbak Bro"....Kalau kata artis Pepeng saat wawancara di acara Chatting with YM "Allah itu ada buk..." :)

Semoga bermanfaat,
Surabaya, 29 Januari 2013
Untuk sahabat terbaik, ibu dan istri terhebat: Selamat ulang tahun, Ibu Ceriwis :)


nb: sejak di-PHK, teman saya ini menjadikan salat Duha sebagai kebiasaan. Subhanallah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar